Selasa, 16 Februari 2010

Batam, Kepri dan Teori Cluster




Mumpung masih fresh baru balik dari Batam, dan mendapatkan kesempatan untuk ngobrol dengan orang-orang penting di jajaran pemko Batam dan pemda Kepulauan Riau (Kepri), maka saya mencoba menuliskan pemikiran ini, mengenai strategic positioning Batam dan Kepri secara umum. Tulisan ini memang baru pemikiran awal, secara umum, dan memang masih perlu studi lebih lanjut untuk rinciannya.

Saya sangat mempercayai teori cluster dan dari Michael Porter. Jadi alat analisis saya di sini adalah teori cluster. Cluster adalah sebuah wilayah yang dibangun dengan fokus kepada satu keunggulan tertentu. Sebuah cluster ditopang oleh beberapa hal, yaitu kondisi bisnis, infrastruktur, kondisi pasar, regulasi pemerintah, pendidikan, industri lain yang relevan, serta sumber pendanaan atau keuangan.

Kepri, saat ini adalah propinsi termuda di Indonesia, terdiri dari 96% lautan, dan hanya 4% daratan. Tanpa analisis yang mendalam, kita sudah bisa menebak, bahwa industri maritim adalah strategic positioning dari Kepri. Industri maritim ini memiliki banyak sub-industri yang bisa diangkat sebagai cikal bakal cluster, antara lain perikanan, perkapalan, pariwisata kelautan. Kepri juga memiliki keunggulan komparatif yang lain, yaitu terletak di posisi silang jalur pelayaran, serta memiliki cadangan minyak bumi di sekitar Natuna. Oke deh, minyak bumi kita keluarkan dulu dari daftar strategic positioning ini, walaupun bisa saja suatu saat pemda berpartisipasi dalam hal ini seperti Bumi siak Pusako di Riau yang ikut mengelola sumur minyak ex Caltex (sekarang Chevron) bersama Pertamina. Dengan demikian, Kepri memiliki strategic positioning industri maritim, meliputi perikanan, perkapalan, dan pariwisata kelautan.

Untuk pariwisata kelautan, sudah mulai dilakukan pengelolaan yang serius. Kita bisa melihat Bintan Resort sebagai sebuah wilayah pariwisata kelautan yang terpadu. Bintan Resort ini menjadi jangkar untuk industri pariwisata kelautan di daerah ini, dengan penyangganya berbagai obyek wisata kelautan yang lain yang tersebar diberbagai tempat di Kepri. Sebuah cluster pariwisata kelautan sudah dibangun dengan serius di Bintan.

Untuk industri perkapalan, dalam hal ini adalah galangan kapal, belum terlihat secara serius. Mungkin untuk yang satu ini, kompetitor terbesar ada di Singapura. Tetapi rasanya kok saya yakin, dengan potensi yang dimiliki Kepri, rasanya bisa dibangun galangan kapal untuk kapal-kapal menengah, dan merebut pasar yang ada. Oke lah, untuk bisnis yang satu ini, agak panjang ceritanya karena menyangkut teknologi.

Nah, terakhir untuk perikanan. Saya juga belum melihat adanya sentra atau cluster industri perikanan yang dibangun secara serius, seperti halnya cluster industri pariwisata di Bintan. Menurut saya, potensinya besar sekali. Tinggal bagaimana mengundang investor untuk mengisi kekosongan bisnis ini.

Seperti konsep cluster yang disampaikan sebelumnya, maka pengembangan semua potensi ini baru akan terjadi dengan baik apabila persyaratan sebuah cluster seperti yang dituliskan di atas dipenuhi. Nah, menurut saya, inilah pe-er terbesar pemda Kepri, yaitu bagaimana menyiapkan semua infrastruktur cluster yang relevan. Misalnya, untuk pendidikan, jelas sekali Kepri butuh pendidikan menengah kejuruan yang relevan dengan cluster kelautan, baik perikanan, perkapalan, serta pariwisata kelautan. Demikian pula dengan perguruan tinggi, baik universitas maupun politeknik, pengembangannya diarahkan untuk membentuk cluster unggulan tersebut. Jika pemda bisa melakukan ini, maka saya yakin Kepri bakal menjadi propinsi yang unggul di Indonesia di masa depan.

Nah, khusus untuk Batam, walaupun merupakan bagian dari Kepri, situasi agak berbeda. Kalau kita lihat strategic positioning Batam ini sangat dipengaruhi oleh keberadaannya yang bersebelahan dengan Singapura. Jika Singapura memiliki strategic positioning sebagai pusat jasa, informasi, transportasi, dan keuangan, maka Batam harus mampu menjadi complementary terhadap Singapura tersebut. Dari awal memang strategic positioning Batam seperti itu, yaitu menjadi kawasan industri yang menunjang Singapura. Makanya batam dikembangkan oleh Otorita Pengembangan Kawasan Industri Pulau Batam atau Otorita Batam. Dari judulnya saja sudah jelas ke mana arah pengembangan Batam. Berbagai industri berat berteknologi tinggi seperti McDermott, Vetco Gray, dan sebagainya ada di sini. Industri ini memiliki pusat di Singapura, dan Batam adalah semacam “hinterland“-nya.

Hanya saja, saya mengamati kok greget pengembangan industri ini semakin berkurang. Belum lagi dualisme pengelolaan Batam, yaitu pemko dan Otorita batam, yang saya yakin, pasti ada tumpang-tindih kebijakan di sana-sini. Khusus untuk industri berat seperti ini, saya tidak melihat kemajuan yang berarti di Batam pada tahun-tahun belakangan ini. Apakah memang Batam akan dijadikan cluster industri berat yang berteknologi tinggi ? Kelihatannya iya. Tetapi saya melihat, pengelolaan cluster-nya yang belum tertata dengan baik. Keberadaan batam digital island bisa jadi merupakan salah satu upaya untuk membenahi hal ini.

Terlepas dari itu semua, saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa Batam memiliki potensi yang kuat untuk menjadi cluster industri berat. Jangan sampai ada kesan seperti banyak gosip bahwa Batam itu sebenarnya adalah kota judi dan entertainment yang lain. Saya yakin itu bukanlah cluster yang ingin dikembangkan. Demikian juga dengan Kepri, potensi menjadi cluster industri maritim unggulan sangat terbuka lebar. Semua keunggulan komparatif sudah dimiliki. Sekarang tinggal bagaimana mengubahnya menjadi keunggulan kompetitif …

UPDATE :

Tulisan ini belakangan dimuat di Majalah e-Indonesia edisi Vol. III, No. 27 / 2008 terbit Oktober 2008.


Sumber :
http://www.ririsatria.net/2008/08/10/batam-kepri-dan-teori-cluster/#more-408
10 Agustus 2008


Sumber Gambar:
http://deddymilano.files.wordpress.com/2009/04/batam-view.jpg
http://ichees.files.wordpress.com/2008/10/batam12.jpg
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/BatamCS.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar